Total Tayangan Halaman

Selasa, 14 Februari 2012




Peribahasa juga karya manusia

Oke,
ini posting pertama gue dalam blog aneh ini.
kenapa gue bilang aneh ?
karena emang blog ini serba aneh, mulai dari tampilan hingga postingan berikutnya juga bakalan banyak yang aneh.
maklum sebagian besar teman gue bilang gue ini orang aneh.
hehehe.
btw,

gue bingung nih mau posting tentang apa,
apa yaaaa ?
..............
..............
..............

..............

..............

..............
..............
jreeenggg.!!!!
setelah sekian lama akhirnya komponen-komponen yang ada di dalam sistem otak gue bisa bekerja meskipun agak sedikit lamban.

di posting gue yang pertama ini gue pengen mengkritik tentang peribahasa-peribahasa yang lazim kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari.
ide ini muncul setelah gue ingat pesan salah seorang dosen gue, dosen gue bilang " segala sesuatu yang berasal dari manusia biasa itu bisa di kritik ".

Well,
tanpa memperpanjang kata sambutan ini marilah kita langsung meluncur menuju TKP.

1.Membagi sama adil, memotong sama panjang.

ini peribahasa pertama yang pengen gue kritik, menurut gue peribahasa ini memiliki pola kalimat yang baik dan sangat terdengar romantis.
But.( maaf pemirsa!! harus ada kata "but" nya karena kalau gak ada berarti ini bukan kritik)
kita mulai dari bagian pertama peribahasa ini "Membagi sama adil", kenapa ini bisa mengundang kontroversi di benak gue ?.
jawaban nya sangat sederhana sekali, ini mengundang kotroversi karena ini bertentangan dengan apa yang selalu guru gue katakan, guru gue selalu bilang "adil itu bukan membagi dengan bagian yang sama tapi adil itu adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya" nah loh !?
ini benar-benar membuat gue galau.
lanjut kebagian kedua "memotong sama panjang". bagian ini membuat gue lebih galau lagi.

kok bisa ?
ya bisa lah.
waktu baca bagian ini gue langsung merinding. gue ngebayangin apa jadinya jika semua tukang sunat di seluruh dunia mengamalkan ini.
wew !!
terlalu mengerikan walau hanya sekedar di bayangkan.
mungkin orang-orang tidak akan memiliki masa depan yang panjang dan cerah.
hehe

2. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang.

Ini terjadi di zaman purba tepatnya pada zaman batu karena uang nya terbuat dari batu sehingga mampu menahan tubuh si abang agar tidak terbang.
harusnya ini di ganti dengan " Lebih Berat Uang Daripada Abang"
3.Menang jadi arang, kalah jadi abu
Sampai saat ini gue masih belum mengerti maksud peribahasa ini.
pertandingan jenis apakah ini ?
apa mungkin ini jenis olahraga terbaru ?
kalau iya apa nama olahraga nya ?
4.Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Bagi gue ini tidak sepenuhnya benar, karena disini berlaku hukum "ketergantungan".
Tidak selamanya air cucuran atap itu jatuhnya ke pelimbahan, contoh nya di daerah asal gue yang air sungai nya sangat asin dan ketika hujan turun warga tidak membiarkan air cucuran dari atap itu jatuh ke pelimbahan dengan sia-sia, mereka dengan tangkas menyiapkan segala jenis tempat penampungan, mulai dari ember, gallon, bak, sampai tangki air.
jadi gue menarik kesimpulan peribahasa ini kurang tepat.


hoaaamh.
masih pengen ngelanjutin. tapi mata gue sudah galau.
gue rasa cukup sampai sini aja dulu posting pertama gue.
_Semua ini hanya keisengan dan fiktif belaka.